Showing posts with label nirwana. Show all posts
Showing posts with label nirwana. Show all posts

Tuesday, August 28, 2018

BERBEDA


Beberapa saat lalu, saya bertemu dengan seorang Ibu dan anak yang istimewa, mungkin Tuhan mengijinkan aku bertemu dengannya karena memiliki rencana yang tidak ku ketahui sekarang, setidaknya mungkin Tuhan ingin memberitahu padaku, bahwa penyertaan-Nya dalam hidup seseorang adalah sempurna, sehingga aku tak perlu menjadi pribadi yang penuh dengan kekuatiran.

“Tuhan, berilah aku seorang anak yang berbeda dengan yang lainnya, bila anak yang lain pintar, berilah aku anak yang lebih pintar dari yang lain (meskipun sedikit lebih pintar)”.

Itulah doa Ibu Mawar (bukan nama asli) waktu mengandung anak pertamanya, beliau menginginkan anak yang spesial, berbeda dari anak manapun. Doa yang merupakan harapan dari Ibu Mawar ini sungguhlah mulia, tak ada yang salah pada saat manusia meminta yang terbaik pada Tuhan, terlebih untuk pemberian dari Tuhan yang luar biasa berharganya.

Berbeda dari yang lainnya. Ternyata benar, Tuhan memberikan putra pada Ibu Mawar berbeda dari lainnya. Putra Bu Mawar tidak bisa makan nasi, setiap dicoba atau disiasati, putranya selalu muntah. Putranya, hanya dapat makan makanan seperti jagung rebus, kedelai, kacang kapri, dan susu. Bila minumannya terlalu manis, Putra Bu Mawar akan berlaku aktiv, seperti mainan yang memiliki bateray yang baru saja di charge, aktiv (kesana kemari tak mengenal lelah).

Mendengar ceritanya langsung dari Bu Mawar yang sejenak nampak berkaca-kaca, saya “seperti” bisa merasakan apa yang menjadi ganjalan hatinya. “Berbeda, itu doa saya ketika saya meminta pada Tuhan , dan Tuhan benar-benar memberi yang berbeda, sedih, tapi ini kan doaku sendiri”.

Hanya saja, beberapa waktu setelah menceritakan hal tersebut, Bu Mawar berkata, “Mungkin Tuhan memberikan ini semua padaku karena aku dianggap mampu untuk merawat, membesarkan, dan mendidik anak yang berbeda, aku kuat karena aku ibu yang luar biasa”.

Monday, November 20, 2017

ONLY BY HIS GRACE

Beberapa minggu belakangan ini, anak-anak tim inti paduan suara SD Bentara Wacana tampak aktif berkumpul di ruang musik, terkadang mengorbankan jam belajar, mengorbankan jam istirahat. Giatnya mereka berkumpul di ruang musik adalah untuk berlatih, mempersiapkan diri mengikuti perlombaan paduan suara Dendang Kencana 2017 yang diadakan oleh Bentara Budaya dan Kompas Gramedia di Yogyakarta. Perlombaan ini adalah sebuah event untuk menghidupkan kembali cinta lagu anak di jaman modern, di samping itu, lomba ini adalah bentuk keprihatinan panitia terhadap kehidupan kids jaman now yang selalu dijejali lagu-lagu koplo, dangdut, dan pop percintaan lainnya.
Di bawah asuhan pak Yosia, anak-anak SD Bentara Wacana yang terseleksi dilatih dengan tidak main-main. Tempaan mental dan ketrampilan menyanyi anak digembleng sedemikian rupa, hingga luapan emosi yang terbangun/terikat kuat tidak hanya dirasakan oleh anak-anak hebat ini, tetapi bu Anas, bu Kris, bu Sri (selaku pihak guru SD), orangtua murid, dan bahkan pak ketua yayasan pun ikut merasakan usaha (perjuangan) pak Yosia dan anak-anak dalam mempersiapkan diri mengikuti lomba ini.
Tanggal 17 November kami berangkat menuju Gedung Pusat Sanata Dharma untuk menjalani momen yang sudah dinantikan. Setelah semua berhasil terlewati, kami sempat berfikir bahwa hari itu adalah hari naas, kami merasa gagal, kami merasa tidak dapat maksimal dalam berkonsentrasi, tidak dapat memberikan yang terbaik untuk sebuah proses latihan yang panjang, berat, dan keras. Tak terbayang wajah pak Yosia di depan lift yang “wirang dan kecelik” dan juga wajah setiap guru atau orangtua yang berada di TKP saat itu. Semua lesu, semua berfikir ini adalah akhir dari sebuah perjuangan, meskipun ada diantara kami yang masih tetap saling membesarkan hati satu sama lain, padahal kami paham bahwa “mbombongi” adalah sia-sia, tapi siapa sangka bahwa dalam usaha “mbombongi” satu sama lain, lahir sebuah harapan yang menggugah semangat setiap kami untuk saling mengingatkan untuk berdoa bersama di rumah kami masing-masing. Kami bersama saling menguatkan untuk menghadapi tanggal 18, di mana pengumuman lomba diberitakan, dan sungguh di luar dugaan kami, kami terpilih menjadi tim yang dipercaya maju ke babak grand final.
Siapa yang menyangka bahwa kami akan melangkah ke babak selanjutnya? Tak satupun dari kami bisa menalar kemurahan Tuhan saat itu. Sepanjang perjalanan kami mengikuti lomba ini, kami tidak hanya belajar tehnik bernyanyi, tapi kami semua menyaksikan sebuah peristiwa iman, sebuah peristiwa tentang betapa rapuhnya manusia yang mudah sekali lupa dan mudah jatuh dalam kesalahan, tapi kami juga menyaksikan betapa baiknya Tuhan pada setiap orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan yang mau selalu berserah kepadaNya.

Sepanjang waktu pak Yosia selalu berkata pada dirinya dan anak-anak hebat itu,

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!  Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”



Tuesday, July 5, 2016

CINTA DARI NGADUMAN SEBUAH DESA DI LERENG GUNUNG MERBABU

Beberapa bulan lalu, temanku yang “cukup gila” memberikanku informasi (dan mengajakku) bahwa “keluarganya” akan mengadakan sebuah acara yang istimewa, aku spontan saja mengiyakan tanpa alasan. “keluarga” temanku ini memiliki makna besar dalam hidupku. Ada putaran balik yang besar ketika aku merasa bahwa tujuan hidup ini menjadi tak menentu dan tanpa terasa keluarga temanku ini akhirnya menjadi keluargaku juga, meskipun kehadiranku di sana memiliki buanyak sekali kekurangan mereka menerima ku dengan sangat legowo. Nafiri Brayat Kinasih, itu nama keluarga Dessy di Jogja.

Mendengar nama desa Ngaduman itu tak membuatku untuk googling tentang tempat dan bagaimana keadaan di sana, karena aku ingin mengikuti seluruh kegiatannya dengan rasa penasaran yang kubiarkan begitu saja tanpa menolak apapun yang diberikan padaku nantinya.

Ternyata, desa Ngaduman itu berada di lereng Gunung Merbabu yang ternyata sangat dingin, tidak ada akses internet yang bias dengan bebas kami akses, sinyal hanya Edge, sehingga membuat kami benar-benar menikmati kebersamaan tanpa ada gangguan dari bunyi tang ting tung dari gajet gajet modern. Desa Ngaduman adalah sebuah desa yang menyediakan diri mereka untuk menerima orang-orang dari Indonesia dan luar negeri untuk menikmati kehidupan di gunung, dan menjadikan GKJTU Manunggal menjadi pusat tempat peribadatan kami. Pendetanya bernama Viktor, yang bagiku cukup arif, ganteng (seperti bintang film). Awalnya aku tak menyangka ada orang seganteng dia mendedikasikan dirinya untuk melayani di daerah pegunungan yang tak ada sinyal internet sama sekali. Keadaan di desa Ngaduman inipun cukup ekstrim, selain jalan-jalannya yang terjal, kabut selalu menemani kami, dan membatasi pandangan kami tak lebih dari 10 meter jarak pandang.

Aku berangkat ke Ngaduman mengendarai motor, menunggu di Muntilan, yang akhirnya di jemput oleh Ketua Remaja, Bezaliel, dan beberapa teman lain yang menggunakan motor juga, Leo, Boby, dan Rivan. Dari awal keberangkatanpun aku sudah menemukan kehangatan di dalamnya. Perjalanannya tampak asik ketika kami bersama-sama menyusuri jalan menuju Kopeng dan menaiki jalan yang sangat terjal menuju desa Ngaduman. Acara kami dimulai dari tanggal 1 hingga 3 Juli 2016, Pak Sundoyo selaku pendeta jemaat GKJ Brayat Kinasih juga memberikan makna totalitas dalam pendampingan kali ini, karena beliau harus pergi pulang ke Ngaduman – Jogja, karena Bintang (putranya) sedang sakit.

Setiba di sana, kami dipecah menjadi beberapa kelompok untuk tinggal di rumah-rumah penduduk. Jalanan dari gereja menuju rumah penduduk pun sangat curam dan terjal, sehingga membuatku dan beberapa teman lainnya terengah-engah ketika harus bolak balik gereja dan rumah tinggal kami.

Kedatangan kami di sambut dengan hangat oleh orang tua angkat kami di sana, mereka menjamu kami dengan sajian terbaik dari apa yang mereka miliki. Dari brokoli tepung yang sebenarnya harganya mahal, hingga makanan khas di desa Ngaduman.

Akhirnya hari ini kami pulang kembali, dan bagiku acara 3 hari ini berlalu sangat cepat. Ketika kami hendak pulang dan pamitan kepada orang tua angkat kami di sana, ada sebuah perasaan kehilangan yang sulit untuk dilupakan. Kata Ibunda dari Pak Agus (rumah yang aku tempati bersama Brian dan Wisnu), “jangan kapok main kemari lagi, kami tidak terganggu dengan ngorokmu, Tuhan selalu memberkati kalian di manapun kalian berada, kata-kata itu yang selalu Nampak hangat dan tertinggal di hatiku hingga kini. Semoga kalian semua yang telah bermurah hati pada kami selalu sehat sehingga kelak kita bisa berjumpa kembali.


Terimakasih Dessy, terimakasih keluarga Nafiri GKJ Brayat Kinasih, kiranya kehangatan yang kalian berikan padaku, dan segala kebaikan yang terjadi di dalamnya selalu terpelihara serta terhidupi selamanya.

NB: untuk biaya akomodasi, per orang dikenai biaya @15ribu sekali makan, tetapi sudah tidak terkena biaya untuk tidur, mandi, dan listrik yang digunakan di rumah yang kami tinggali.
acara bersih-bersih pesarean (kuburan) yang dilaksanakan setiap hari jumat kliwon

penampakan rumah bapak agus, anak lelaki dari pemilik rumah. di samping rumah warga Ngaduman banyak terdapat kandang ternak seperti sapi, ayam, dan babi

ruang tamu rumah tinggal kami

Kamar tempat kelompok kami tinggal (3 orang )

last picture from GKJTU Manunggal Desa Ngaduman, ini adalah foto teman-teman Remaja Nafiri GKJ Brayat Kinasih

ketiga dari kiri adalah bapak pemilik rumah tinggal kelompok kami


Thursday, January 21, 2016

TAK ADA GADING YANG TAK RETAK

Topik diskusi mengenai gading yang retak, biasanya selalu dikaitkan dengan tema ketidaksempurnaan seseorang yang dapat meruncing pada tema dosa dan pengampunan. Tema ini terkadang menjadi terlalu basi untuk dibahas dalam sebuah komunitas atau di kalangan tertentu, di samping itu topik ini bisa saja menjadi topik yang tabu, sangat sensitif karena akan melukai banyak pihak. Mengapa bisa begitu? Jawabannya simpel, karena topik ini membicarakan sikap hidup manusia Indonesia kebanyakan yang masih memegang budaya “pakewuh” untuk mengingatkan sesamanya yang berbuat salah secara langsung, sehingga begitu banyak manusia Indonesia yang seringkali memilih menyimpan kebenciannya, kejengkelannya, atau ketidaksukaannya dalam hati mereka. Di lain pihak, tidak begitu banyak manusia Indonesia yang siap diingatkan oleh sesamanya, sehingga ketika kesadaran itu tidak ada, nasihat, saran, kritik yang diberikan oles sesamanya dianggap sebagai pisau yang sanggup melukai dirinya. Terlalu banyak ketakutan yang membuat menusia lebih memilih menyimpan benci daripada melepaskannya. Belum lagi jika kebencian yang lama tersimpan dalam hati dibagikan kepada orang lain (rekan curhat, apalagi yang tidak netral) bisa saja kebencian yang kecil, menjadi kebencian yang besar yang siap meledak secara bersama-sama. Sudah banyak contoh komunitas yang hancur, terpecah karena masalah kebencian yang disimpan, yang kemudian meledak bersamaan.

Berbicara mengenai contoh kebencian dalam komunitas yang sangat berbahaya, mari kita lihat dalam injil Lukas, dalam kisah Zakheus di kota Yerikho, di mana Zakheus menjadi seorang pemungut cukai, pekerja pajak bagi pemerintahan romawi di kota pusat produksi balsem. Orang Yahudi yang bekerja bagi pemerintah romawi, tidak dapat dipandang sebelah mata, dia berarti merupakan orang penting, orang yang dianggap berjasa bagi kekaisaran Roma, terlebih dalam permasalahan uang negara, tentunya kepercayaan pemerintah terhadap Zakheus, dapat melahirkan hak istimewa baginya dan hak istimewa tersebut diinginkan oleh setiap orang dalam zaman pemerintahan romawi. Di sisi lain, bagi orang Yahudi, zakheus dianggap sebagai penghianat bangsa, karena dia memungut pajak tidak pandang bulu, tidak berarti orang yahudi bebas pajak. Oleh karena hal ini, zakeus memiliki stereotype sebagai seorang pendosa bagi bangsanya. Sedangkan orang Yahudi jika memandang dosa, merupakan hal yang najis, menjijikkan, dan bisa menyebabkan dikucilkan, karena dosa yang najis itu harus dijauhi. Memiliki stereotype sebagai “seorang pendosa” dapat menjadi hal yang tidak menyenangkan untuk zakeus, istilah zakheus adalah “jape mete” atau “cahe dewe” (orang sendiri – kaum sendiri) orang yahudi yang dibenci oleh orang yahudi, tentunya sangat menyakitkan, hal ini bisa saja dirasakan bila kita memandang dari kacamata zaman sekarang, tentu sangat menyakitkan bila kita dimusuhi oleh orang sendiri, teman sendiri, saudara sendiri, tetangga sendiri, dimusuhi oleh komunitas, atau bahkan dimusuhi oleh orang gereja.

Dalam teks Injil Lukas, kita juga kerap kali menilai zakeus sebagai pendosa, bukan karena kita menyadari dia sebagai pendosa, tetapi karena penilaian orang banyak saat itu, “dia mampir ke rumah orang berdosa”. Tanpa kita mau memikirkan sebenernya zakheus kalau telat setor pajak pada pemerintahan romawi apa yang akan terjadi padanya? Karena tanggung jawab kepada negara untuk permasalahan pajak diduga sangat besar. Karena pajak saat itu salah satunya berguna untuk memelihara alat perang, sedangkan kekaisaran romawi sangat haus dengan penaklukan bangsa lain/ perang. Sering kali pembaca injil Lukas turut memberikan label pendosa bagi zakheus karena pengaruh dari teks, tapi mari kita tidak berhenti di situ, lihat apa yang dilakukan oleh Yesus ketika dia mendengar apa yang diutarakan zakheus dalam rumahnya. Dalam Lukas 19:9a “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini”. Bahkan Yesus sama sekali tidak mengatakan bahwa zakheus adalah seorang pendosa. Bagi saya pribadi, bukan hanya kata “soteria - keselamatan” yang menarik untuk dihayati, tapi mengapa respon Yesus begitu luar biasa terhadap ucapan zakheus, ucapan yang mendatangkan keselamatan. Bagi saya, ada sebuah penerimaan dari Yesus terhadap kesadaran dan niatan untuk melakukan sebuah perubahan dari yang tidak baik, menjadi sesuatu yang baik, dari sesuatu yang bersifat untuk diri sendiri, berubah untuk kesejahteraan sesama. Yesus sama sekali tidak menggunakan kata dosa dan dilekatkan pada pribadi zakheus, tapi keselamatan hadir dalam rumah zakheus karena ada niatan untuk melakukan sebuah perubahan, dan Yesus me sangat bersukacita untuk itu.

Manusia yang eksis sebagai mahluk sosial, memiliki kekuatan yang sangat besar bila bersatu dalam sebuah komunitas, sebagai contoh positif: ketika warga gereja bersatu hati, bertekad untuk merenovasi gedung gerejanya, tidak akan lebih sulit jika dibandingkan dengan yang tidak bersatu hati. Ketika kelompok remaja bersatu hati ingin memiliki gitar, maka upaya yang dilakukan benar-benar dapat mempengaruhi apa yang harus dilakukan untuk menggapai cita-cita dalam komunitas tersebut. Tetapi harus diwaspadai, kejahatan komunitas juga dapat terjadi dalam kehidupan manusia yang rapuh. Komunitas gereja bahkan bisa menjadi pihak yang sangat jahat untuk mempengaruhi sesamanya untuk like dan dislike berdasarkan keinginan tertentu. Meskipun hidup sebagai sesama pemeluk agama kristen, tak malu untuk melahap sesamanya dan memberikan label secara masal pada seseorang yang dibenci.

Mari sejenak meletakkan kebencian yang dimiliki, belajar dari respon Yesus terhadap zakheus yang terlabel dengan dosa oleh komunitas, ada sebuah penerimaan sebagai langkah awal dalam sebuah pemulihan. Penerimaan untuk menganggap bahwa zakheus layak untuk mendapatkan kesempatan untuk berubah, penerimaan yang tulus yang melahirkan pengampunan untuk sesama. Penerimaan yang memberikan kesempatan untuk berubah, memberikan panggung bagi sesama untuk mewujudkan perubahan yang disadarinya. Perubahan yang tentunya membawa damai dan keselamatan bagi si pendosa ataupun orang lain.

QUOTE: 
“tidakkah kau terlalu rindu untuk mengampuni sesamamu yang bersalah kepadamu? Ataukah dalam hidupmu, kau tak pernah mendapatkan pengampunan dari sesamamu atau dari Tuhan sekalipun sehingga engkau sulit mengampuni?"

Monday, November 30, 2015

HARGA TIKET MASUK OBJEK WISATA DI YOGYAKARTA

GUNAKAN control+F guna menemukan info tempat wisata yang anda cari
harga bisa berubah sewaktu-waktu

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Obyek Wisata di Jogja ‪#‎TM‬

1. Candi Borobudur (open 06.00 – 17.00)
Wisatawan Nusantara/domestik:
1.Umum Rp.30.000/orang
2.Pelajar Rp.12.500/orang

Wisatawan asing/Mancanegara:
1. Dewasa $20/orang (Rp.190.000)
2. Anak-anak $8/anak

2. Candi Prambanan (open 06.00 – 17.00)
Lokal: RP. 30.000, Asing :$20

3. Candi Boko
Umum : Rp 15.000
Anak-anak Rp 10.000.
Untuk tiket terusan masuk Candi Prambanan Rp 37.000 per orang.
Untuk tiket terusan disediakan kendaraan dari Prambanan menuju ke Ratu Boko

4. Kraton Yogyakarta (open 09.00 – 14.00)
Lokal : RP. 7.000, Asing: 12.500

5. Taman Pintar
buka Selasa-Minggu pk. 09.00-16.00, Senin tutup kecuali hari libur nasional

ANAK : Rp 8.000,-
DEWASA : Rp 15.000,-

Tiket Gedung PAUD:
Anak (2-7Thn) : Rp 2.000,-

Playground : Gratis

Theater 3 dimensi :
Umum/Dewasa : Rp.20.000/org
Pelajar : Rp.15.000/org
Rombongan : Rp.15.000/org (min.20 org)

6. Taman Pelangi (Buka : 17.00-23.00)
Senin-Kamis : Rp 10.000
Jumat-Minggu : Rp 15.000

7. Monumen Jogja Kembali (buka dari Selasa-Minggu pukul 08.00-16.00)
Turis lokal Rp 5.000
Turis asing Rp 7.500

8. Kebun Binatang Gembira Loka (Zoo)
Senin-Sabtu : Rp 15.000
Minggu dan Libur Nasional : Rp 20.000

9. Museum-museum di Yogyakarta

10. Taman Sari (open 09.00 – 1400)
Lokal : ID 5.000, Asing : 8.000

11. Kaliurang Rp.3500,-

12. Pantai Parangtritis Rp.3500,-

13. Ketep: Rp.8000,-

14. Kaliadem Rp.3500,-

15. Pantai Baron, Krakal, Kukup Rp.5000,-

16. Dieng area Rp.25.000,- untuk tiket terusan 4 obyek wisata.

17. Candi Ijo (sampai Maret 2013 masih gratis)

18. Pantai Baron, Krakal, Kukup dan sebagainya

19. Pantai Pulang Syawal Gunung Kidul(Indrayanti)

20. Pantai Pok Tunggal

21. Pertunjukan Sendratari Ramayana

22. Candi Sambisari

23. Pasar seni dan kerajinan Gabusan

24. Pantai Glagah, congot, dan Trisik: (satu paket Rp.2000)

25. Pantai Samas: Rp. 2000/orang

26. Ancol Bligo Rp: 2000/orang

sumber: https://www.facebook.com/forzajogja/posts/544052209016457



HTM Wisata Sejarah
Keraton Jogja Rp. 5.000,-

Taman Sari Rp. 3.000.-

Museum Kereta Keraton Rp. 3.000,-

Museum Sonobudoyo Rp. 3.000,-

Museum Benteng Vredeburg Rp. 2.000,-

Pura Pakualaman Rp. 10.000,- (weekdays) Rp. 12.000,- (weekend)

Museum Affandi  Rp. 10.000,-

Sendratari Ramayana (Purawisata) Rp. 160.000,-

Sendratari Ramayana (Prambanan) Rp. 100.000,- s/d Rp. 350.000,-

Museum Gunung Merapi Rp. 3.000,-

Museum Ullen Sentalu Rp. 25.000.-

Tugu Golong Gilig Jogja Gratis


HTM Wisata Candi

Candi Borobudur Rp. 35.000,-

Candi Mendut RP. 3.500,-

Candi Pawon Rp. 3.500,-

Candi Sambisari Rp. 5.000,-

Candi Prambanan Rp. 30.000,-

Candi Ratu Boko Rp. 25.000,-

Candi Ijo ..sumbangan..

Candi Barong ..sumbangan..


HTM Wisata Alam
Bukit Punthuk Setumbu Rp. 15.000

Rafting Sungai Elo Rp. 550.000,- (5 orang)

Merapi Volcano Tour (Jeep) Rp. 250.000,- (4 orang)

Merapi Volvcano Tour (Trail) Rp. 50.000.-

Gunung Api Purba Rp. 5.000,-

Cave Tubing Goa Pindul Rp. 35.000.-

River Tubing Sungai Oyo Rp. 45.000,-

Cave Tubing Kalisuci Rp. 65.000,-

Air Terjun Sri Gethuk Rp. 20.000,-

Caving Goa Jomblang Rp. 450.000,-

Retribusi Kawasan Pantai Rp. 4.000,- 


HTM Wisata Lain

Taman Pintar Rp. 15.000,- (dewasa) Rp. 8.000,- (anak-­‐anak)

Museum Anak Kolong Tangga Rp. 4.000,- (dewasa) (Gratis untuk Anak-anak)

Kebun Binatang Gembira Loka Rp. 15.000,- (weekdays) Rp. 20.000,- (weekend)

Taman Pelangi Rp. 10.000,- (weekdays) Rp. 15.000,- (weekend)

sumber: http://pamungkaz.net/daftar-harga-tiket-masuk-wisata-di-jogja/

Friday, April 10, 2015

MELIHAT INDONESIA

hehehe iseng nih, bikin artikel bergambar dengan judul besar "MELIHAT INDONESIA".
semua sudah aku post kan di twitter dan ada beberapa yang ku buat berdasarkan cuitan mbah sujiwo tedjo, sudah ku mention ke beliau tapi yang di respon cuma 1 yah gpp,
semua gambar aku buat dengan menggunakan media paint brush, karena aku ga mahir pake aplikasi lainnya, dan hanya ini yang aku punya, jelek atau bagus, selamat menikmati
KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR

1. KASUS GOLKAR

2. KASUS AHOK dan BEER (apa benar beer mematikan?)

3. PENGALAMAN SUJIWO TEDJO KETEMU TEMENNYA DI BALI
DARI : "TEORI" Mayoritas tidak menindas Minoritas
MENJADI : ikan mas di kolam lele

4. KASUS AHOK SUKA BACOT KASAR SAMPAI PERKELAHIAN ANGGOTA DPR DARI PPP DAN DEMOKRAT DAN PENDAPAT KOCAK FADLIZON


tanggapan / pernyataan tentang kasus perkelahian anggota DPR dari FadliZon semua ada di
http://www.beritasatu.com/nasional/264070-soal-insiden-pemukulan-anggota-dpr-fadli-zon-itu-hal-biasa.html

Saya akan selalu berusaha UPDATE dengan gambar-gambar lain tentang "MELIHAT INDONESIA"